Refleksi IV 10 September 2012
- Akal dan fikiran mampu menjadikan manusia survive dimuka bumi. Dengan nalarnya manusia menterjemahkan linhkungannya agar lingkungan itu menunjang kelangsungan dan keberadaan manusia itu sendiri, Dengan akal fikirannya manusia selalu mempertanyakan dirinya dan lingkungannya. "Mengapa ini? Mengapa itu?" Itulah pertanyaan yang senantiasa ada dalam fikiran manusia. Manusia selalu bereksperimen untuk menjawab "Mengapa ini? Mengapa itu?" Ia mengembangkan dan menghubungkan keterkaitan antara "Mengapa ini? Mengapa itu?" . Dalam fikirannya tentang "Mengapa ini? Mengapa itu?" terus berkecamuk dan terus ada. Mungkin ini berlangsung selama keberadaan manusia itu sendiri. Hal itu untuk menjaga manusia tetap eksis di muka buni ini. Akibat adanya "Mengapa ini? Mengapa itu?" terbentuklah ilmu pengetahuan manusia untuk menjawabnya. Tetapi ketidakpuasan akan hasil pemikiran orang lain, akhirnya manusia mengembangkan kembali hasil jawaban sementara dari pertanyaan itu. Keadaaan itu berlangsung terus menerus dan bergulir dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun, bahkan dari abad keabad. Sampai akhirnya manusia mempertanyakan keberadaannya dan hakekat hidupnya. Apa itu hidup, apa itu tujuan hiup, sampai kapan ia hiup, kapan ia mati, dan ada apa setelah kematian. Jawaban-jawaban untuk itu sementara memusaskan untuk sebagian orang, tetapi belum untuk sebagian lainnya. Sebagian masih mempertanyakan kembali. Mereka tetap bertanya dan terus bertanya. Kehausan dan hasrat akan jawaban dan rasa keingintahuan mereka dari pertanyaan itulah yang membangun peradaban manusia dari waktu ke waktu.
- Hati dan perasaan adalah kelengkapan lain dari keberadaan manusia. Dengan hati dan perasaannya ini manusia dibimbing agar fikiran liarnya tidak serta merta dijadikan satu-satunya alat survive untuk kelangsungan hidupnya. Hati dan perasaan mampu menilai baik dan buruk akan sesuatu. Keduanya menuntun untuk menuju kesadaran akan fikiran dirinya dan fikiran orang lain yang sama-sama liar. Sehingga ada keterbatasan yang menghalangi dirinya untuk menyelami fikiran orang lain. Hati dan perasaan juga disamping membangun ego, juga menilai egonya itu sendiri yang terbatas dilingkungan ego orang lain. Hasil olah hati dan rasa ini menimbulkan etika dan estetika, untuk menemukan keselarasan akan kehidupan. Namun kadang hasil olah hati dan perasaan ini juga menimbulkan penilaian yang merusak akan keselarasan itu sendiri.
Pertanyaan :
1. Apakah pertanyaan pada hakekat termasuk pertanyaan
filsafat?
2.
Apakah menjalani hidup dan kehidupan yang biasa sama dengan sedang
berfilsafat?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar