Refleksi III
: 30 Juli 2012
Penyakit
Filsafat
Penyakit Filsafat
Hidup itu ada dalam rangka shirotol mustaqim, kalau
dijabarkan didalamnya, ternyata didunia ini hidup terlihat seperti lurus.
Kenyataannya hidup itu berbelok-belok, dan berputar-putar. Putaran itu unsurnya garis lurus dan
melingkar. Jadi perjalanan hidup itu berputar-putar seperti spiral. Satu aspek
dalam kehidupan itu memiliki satu spiral. Semua manusia mempunyai aspek yang
tak terhingga. Sehingga kehidupan manusia itu memiliki tak berhingga perjalanan
hidupnya, karena memiliki tak berhingga aspek kehidupan.
Pembicaraan dengan berulang-ulang atau
dengan pengulangan-pengulangan adalah untuk memperkokoh atau untuk mengingat
kembali dalam rangka menjalin hidup; menjalin hubungan, membangun koneksi antar
komponen agar komperhensip.
Penyakit filsafat yang juga sama dengan
penyakit hidup diantaranya adalah kehidupan yang parsial atau parsial
hidupnya; terputus; tidak bias
dijelaskan; tidak bias dipercaya; tidak komperhensip; mis komunikasi antara
bagian-bagian atau unsur-unsur kehidupan. Miskomunikasi dalam arti yang
sebenar-benarnya, dan dalam arti yang seluas-luasnya. Seperti penyakit dalam
hati, penyakit dalam fikiran, dan penyakit dalam badan.
Hidup yang linear; hidup yang monoton;
hidup yang homogeny ternyata juga merupakan penyakit filsafat, bahkan hidup
yang heterogen pun ternyata merupakan penyakit filsafat juga, sehingga keadaan
nya memang kontradiksi, karena memang hidup itu kontradiksi. Hidup melengkung juga penyakit filsafat.
Tidak ada penjelasan juga merupakan penyakit filsafat. Dan ternyata ada
penjelasan juga merupakan penyakit filsafat sejauh penjelasan itu tidak tepat
terhadap ruang dan waktunya. Artinya tidak sopan terhadap ruang dan waktu itu
merupakan penyakit filsafat pula. Ruang dan waktu disini adalah seluruh yang
ada dan yang mungkin ada.
Kita harus tahu banyak pada sopan
santun, agar kita santun, sedangkan santun itu juga merupakan ilmu. Ini sebagai
penjelasan bahwa filsafat itu adalah refleksi diri atau adab / sopan santun
untuk melihat dirinya sendiri. Agar guru terhidar dari dosa memberikan
penjelasan, guru harus membuat skema dan
membuat fasilitas.
Cara
belajar filsafat adalah dengan membaca, membaca, dan membaca. Juga harus
dapat menterjemahkan dan diterjemahkan atau hermenitika. Apapun benda atau
sesuatu yang berada dilingkungan kita merupakan atau dapat dijadikan sebagai
refleksi diri atau untuk memahami diri kita semuanya berdasarkan kuasanya atau
aturannya keteraturannya. Karena belajar filsafat itu harus memahami kuasanya
atau aturannya. Tidak ada sesuatu apapun didunia yang tidak teratur, bahkan
ketidak teraturan pun merupakan keteraturan. Dua prinsif dalam filsafat adalah
sin tesa dan kontradiksi. Karena didunia
ini yang kelihatannya tidak teratur itu sebenarnya teratur. Kita merasa tidak
teratur itu karena keterbatasan pemikiran.
Manusia begitu sulit melihat dirinya
sendiri karena egonya menutup akal fikirannya sendiri. Ego merupakan sifat
manusia. Sedangkan sifat itu sendiri unlimited, tidak dapat dihitung.
Ego itu sama dengan reduksi artinya
penyederhanaan menuju sifat tertentu kemudian diperkokoh dan menjadi parsial.
Karena itu ego juga merupakan kesombongan. Sedangkan sombong itu sendiri adalah
dosa besar.
Untuk yang baru belajar filsafat,
janganlah sembarang diobrolkan atau diomongkan sebelum purna mempelajari
filsafat. Agar filsapat itu tidak parsial. Yang pendting penjelasannya itu
sendiri merupakan filsafat. Belajar filsafat bias darimana saja, kapan saja,
oleh siapa saja, dan dari apa saja. Belajar filsafat juga harus kontinyu.
Pertanyaan : Kapan filsafat
dapat digunakan oleh orang yang belajar berfilsafat?
Dan apakah orang yang baru belajar tentang filsafat bias disebut
orang awam, sehingga belum dapat berfilsafat?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar