Jumat, 03 Agustus 2012



Refleksi III : 30 Juli 2012
Penyakit Filsafat

Penyakit Filsafat
Hidup itu ada  dalam rangka shirotol mustaqim, kalau dijabarkan didalamnya, ternyata didunia ini hidup terlihat seperti lurus. Kenyataannya hidup itu berbelok-belok, dan berputar-putar.  Putaran itu unsurnya garis lurus dan melingkar. Jadi perjalanan hidup itu berputar-putar seperti spiral. Satu aspek dalam kehidupan itu memiliki satu spiral. Semua manusia mempunyai aspek yang tak terhingga. Sehingga kehidupan manusia itu memiliki tak berhingga perjalanan hidupnya, karena memiliki tak berhingga aspek kehidupan.
Pembicaraan dengan berulang-ulang atau dengan pengulangan-pengulangan adalah untuk memperkokoh atau untuk mengingat kembali dalam rangka menjalin hidup; menjalin hubungan, membangun koneksi antar komponen agar komperhensip.
Penyakit filsafat yang juga sama dengan penyakit hidup diantaranya adalah kehidupan yang parsial atau parsial hidupnya;  terputus; tidak bias dijelaskan; tidak bias dipercaya; tidak komperhensip; mis komunikasi antara bagian-bagian atau unsur-unsur kehidupan. Miskomunikasi dalam arti yang sebenar-benarnya, dan dalam arti yang seluas-luasnya. Seperti penyakit dalam hati, penyakit dalam fikiran, dan penyakit dalam badan.
Hidup yang linear; hidup yang monoton; hidup yang homogeny ternyata juga merupakan penyakit filsafat, bahkan hidup yang heterogen pun ternyata merupakan penyakit filsafat juga, sehingga keadaan nya memang kontradiksi, karena memang hidup itu kontradiksi.  Hidup melengkung juga penyakit filsafat. Tidak ada penjelasan juga merupakan penyakit filsafat. Dan ternyata ada penjelasan juga merupakan penyakit filsafat sejauh penjelasan itu tidak tepat terhadap ruang dan waktunya. Artinya tidak sopan terhadap ruang dan waktu itu merupakan penyakit filsafat pula. Ruang dan waktu disini adalah seluruh yang ada dan yang mungkin ada.
Kita harus tahu banyak pada sopan santun, agar kita santun, sedangkan santun itu juga merupakan ilmu. Ini sebagai penjelasan bahwa filsafat itu adalah refleksi diri atau adab / sopan santun untuk melihat dirinya sendiri. Agar guru terhidar dari dosa memberikan penjelasan, guru harus membuat skema  dan membuat fasilitas.
Cara  belajar filsafat adalah dengan membaca, membaca, dan membaca. Juga harus dapat menterjemahkan dan diterjemahkan atau hermenitika. Apapun benda atau sesuatu yang berada dilingkungan kita merupakan atau dapat dijadikan sebagai refleksi diri atau untuk memahami diri kita semuanya berdasarkan kuasanya atau aturannya keteraturannya. Karena belajar filsafat itu harus memahami kuasanya atau aturannya. Tidak ada sesuatu apapun didunia yang tidak teratur, bahkan ketidak teraturan pun merupakan keteraturan. Dua prinsif dalam filsafat adalah sin tesa dan kontradiksi.  Karena didunia ini yang kelihatannya tidak teratur itu sebenarnya teratur. Kita merasa tidak teratur itu karena keterbatasan pemikiran.
Manusia begitu sulit melihat dirinya sendiri karena egonya menutup akal fikirannya sendiri. Ego merupakan sifat manusia. Sedangkan sifat itu sendiri unlimited, tidak dapat dihitung.
Ego itu sama dengan reduksi artinya penyederhanaan menuju sifat tertentu kemudian diperkokoh dan menjadi parsial. Karena itu ego juga merupakan kesombongan. Sedangkan sombong itu sendiri adalah dosa besar.
Untuk yang baru belajar filsafat, janganlah sembarang diobrolkan atau diomongkan sebelum purna mempelajari filsafat. Agar filsapat itu tidak parsial. Yang pendting penjelasannya itu sendiri merupakan filsafat. Belajar filsafat bias darimana saja, kapan saja, oleh siapa saja, dan dari apa saja. Belajar filsafat juga harus kontinyu.


Pertanyaan :   Kapan filsafat dapat digunakan oleh orang yang belajar berfilsafat?
Dan apakah orang yang baru belajar tentang filsafat bias disebut orang awam, sehingga belum dapat berfilsafat?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar