Minggu, 11 November 2012

Terjebak di Pusaran Filsafat


12 Nopenber 2012

Terjebak di Pusaran Filsafat




PENDAHULUAN
A.    Manusia Makhluk Berfikir
Manusia sebagai makhluk berfikir, selalu mempertanyakan dirinya dan keberadaan dirinya dalam lingkungannya. Ia selalu berusaha mencari jawaban dari semua pertanyaan yang ada dalam seluruh ruang fikirannya. Pertanyaan-pertanyaan timbul dari pengalaman yang dialami selama masa kehidupan manusia itu sendiri. Proses pencarian inilah yang akhirnya merupakan awal dari semua pengetahuan yang ada saat ini. Ilmu pengetahuan ini meliputi semua yang ada dan nyata dan meliputi semua kebenaran didalamnya. Semua itu menjadi dasar dari ilmu pengetahuan yang ada pada masa sekarang. Ilmu pengetahuan ini buah dari pemikiran-pemikiran terhadap sikap dan kepercayaan yang benar-benar dianalisa secara cermat berdasarkan logika dan penjelasan yang dapat dipercaya. Jadi pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. Bedanya cara dalam mendapatkan pengetahuan tersebut serta tentang apa yang dikaji oleh pengetahuan tersebut membedakan antara jenis pengetahuan yang satu dengan yang lainnya. Pengetahuan dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni, pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua adalah kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Secara garis besar cara berpikir seperti ini disebut penalaran.
Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu  kesimpulan yang berupa pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan melalui suatu cara tertentu. Suatu penarikan  kesimpulan baru dianggap sahih (valid) kalau proses penarikannya dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, di mana logika secara luas dapat didefinisikan sebagai “pengkajian untuk berpikir secara sahih”.
Manusia selalu ingin tahu  tentang kebenaran. Apa kriteria bahwa suatu kebenaran itu nyata.  Dalam proses pembuktian suatu kebenaran, manusia dapat melakukan pengumpulan data secara empiris untuk mendukung kebenaran sesuatu objek yang dipertanyakan. Aristoteles mendefinisikan kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai yang  diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar dan salah adalah soal sesuai tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya. Kebenaran terletak pada kesesuaian antara subyek dan obyek yaitu apa yang diketahui subyek dan realitas sebagaimana adanya. Pernyataan. Jadi pernyataan adalah benar jika berhubungan secara logis dengan pernyataan yang lain. Suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.
Tidak semua manusia mempunyai persyaratan yang sama terhadap apa yang dianggapnya benar. Dalam perkembangan pemikiran filsafat perbincangan tentang kebenaran sudah dimulai sejak Plato yang kemudian diteruskan oleh Aristoteles. Plato melalui metode dialog membangun teori pengetahuan yang cukup lengkap sebagai teori pengetahuan yang paling awal. Sejak itulah teori pengetahuan berkembang terus untuk mendapatkan penyempurnaan hingga kini. Banyak pandangan mengenai teori kebenaran, semua mendefenisikan tentang kebenaran menurut pendapat dan pandangannya masing-masing, sehingga kita tidak bisa hanya berpatokan pada satu pandangan saja, akan tetapi kita harus mengkaji banyak sudut pandang. 
Maksud dari hidup ini adalah untuk mencari kebenaran. Kebenaran menurut Plato bukanlah hanya kenyataan (dos sollen), tapi juga  itu tidak selalu yang seharusnya (dos sein) terjadi. Kenyataan yang terjadi bisa saja berbentuk ketidakbenaran (keburukan). Jadi ada 2 pengertian kebenaran, yaitu kebenaran yang berarti nyata-nyata terjadi di satu pihak, dan kebenaran dalam arti lawan dari keburukan (ketidakbenaran). Dalam bahasan ini, makna “kebenaran” dibatasi pada kekhususan makna “kebenaran keilmuan (ilmiah)”. Kebenaran ini mutlak dan tidak sama atau pun langgeng, melainkan bersifat nisbi (relatif), sementara (tentatif) dan hanya merupakan pendekatan. Kebenaran intelektual yang ada pada ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan. Kebenaran merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. Dengan demikian maka pengabdian ilmu secara netral, yang tak bermuara, dapat melunturkan pengertian kebenaran sehingga ilmu terpaksa menjadi steril. Uraian keilmuan tentang masyarakat sudah semestinya harus diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnya kebenaran. Lebih jauh lagi dikatakan bahwa persesuaian antara pengatahuan dan obyeknya itulah yang disebut kebenaran. Artinya pengetahuan itu harus dengan aspek obyek yang diketahui. Jadi pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif.
B.     Manusia Bukan Satu-Satunya Penentu Kebenaran
Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan manusia. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (humandignity) selalu berusaha “memeluk” suatu kebenaran. Berdasarkan cakupan potensi subjeknya, maka susunan tingkatan kebenaran itu dibgi menjadi empat tahapan yakni :
1.      Tingkatan kebenaran indera adalah tingakatan yang paling sederhanan dan pertama yang dialami manusia
2.      Tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indara, diolah pula dengan rasio
3.      Tingkat filosofis, rasio dan pikir murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itusemakin tinggi nilainya
4.      Tingkatan religius,  kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan
            Manusia selalu mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk melaksankan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang kebenran, tanpa melaksankan konflik kebenaran, manusia akan mengalami pertentangan batin, konflik spilogis. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang dimana selalu ditunjukkan oleh kebanaran. Teori Corespondence menerangkan bahwa kebenaran atau sesuatu kedaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan atau pendapatdengan objek yang dituju/ dimaksud oleh pernyataan atau pendapat tersebut. Sedangkan menurut teori consistency hasil test dan eksperimen dianggap dapat dipercaya jika kesan-kesan yang berturut-turut dari satu penyelidik bersifat konsisten dengan hasil test eksperimen yang dilakukan penyelidik lain dalam waktu dan tempat yang lain. Lain lagi menrut  teori pragmatisme menguji kebenaran dalam praktek yang dikenal para pendidik sebagai metode project atau metode problem solving di dalam pengajaran. Mereka akan benar-benar hanya jika mereka berguna mampu memecahkan problem yang ada. Artinya sesuatu itu benar, jika mengmbalikan pribadi manusia di dalamkeseimbangan dalam keadaan tanpa persoalan dan kesulitan. Sebab tujuan utama pragmatisme ialah supaya manusia selalu ada di dalam keseimbangan, untuk ini manusia harus mampu melakukan penyesuaian dengan tuntutan-tuntutan lingkungan. Terakhir kebenaran religius mengatakan kebenaran tak cukup hanya diukur dnenga rasio dan kemauan individu. Kebenaran bersifat objective, universal, berlaku bagi seluruh umat manusia, karena kebenaran ini secara antalogis dan oxiologis bersumber dari Tuhan yang disampaikan melalui wahyu.
C.     Manusia dan Fikirannya
Manusia bersifat material/fisik (MATERIALISME)  karena ia menempati ruang dan waktu, memiliki keluasan (res extensa), dan bersifat objektif.  Sebaliknya manusia bersifat spiritual (IDEALISME), dapat berfikir (res cogitans).  Perilaku manusia merupakan perwujudan dari energi-energi (kekuatan) yang ang tidak rasional (VITALISME), keputusan manusia dianggap rasional sebenarnya adalah rasionalisasi dari keputusan yang tidak rasional, didasari oleh energi, naluri, atau nafsu yang tidak rasional.  Manusia sebagai proses menjadi, gerak yang aktif dan dinamis (EKSISTENSIALISME), tetapi manusia merupakan makhluk yang tidak bebas, yang terstruktur oleh sistem bahasa dan budayanya.
Manusia adalah makhluk pemikir.  Manusia berfikir bahwa merekalah yang menempati posisi yang sangat sentral dan penting. Manusia sebagai pekerja atau pencipta didunianya. Manusia makhluk unik, yang tidak dapat disejajarkan dengan makhluk lainnya, karena ia juga hidup dengan penglaman-penglamannya, ide-idenya, imajinasi-imajinasinya, harapan-harapannya (Dilthey). Manusia juga sebagai subjek sekaligus objek bagi telaah ilmu humanistik.
Dengan jiwa rasionalnya, manusia mampu berfikir secara sadar, membuat norma sosial, serta menyusun kebajikan-kebajikan moral. Jadi dalam diri manusia ada sesuatu penggerak yang sensitif mengiringi kehidupannya yakni jiwa. Menurut Descartes, jiwa mengalir kedalam rongga-rongga otak , keluar menuju saluran-saluran dan bergerak menuju syaraf-syaraf sehingga jiwa itu dapat mengubah bentuk otot-otot sehingga menggerakan anggota tubuh. Hal ini diilhami oleh mengemukakan bahwa rasio dan fungsi-fungsi intelektual jiwa lebih fundamental dari pada pengalaman indrawi. Pengamatan melalui indra atau penglaman kongkrit menurut Descrates dapat menipu dan sepenuhnya tidak nyata. Sesuatu itu nyata karena sedang difikirkan.
Manusia dengan kemampuan berfikirnya dapat menempatkan suatu kesadaran akan dirinya. Kesadaran atau intelek atau rasio adalah hakikat dari jiwa (Schopenhauer), ia merupakan permukaan jiwa. Dibawah intelek terdapat kehendak yang tidak sadar, suatu daya atau kekuatan hidup yang abadi, atau keinginan yang kuat. Intelek tangan kanan dan pelayan kehendak. Kehendak permanen didalam jiwa, pemersatu ide-ide dan pemikiran-pemikiran dan akhirnya membentuk karakter individu. Intelek kemampuannya terbatas tetapi kehendak mampu terjaga terus menerus tidak pernah merasakan lelah.
Melalui suatu pemikiran manusia dapat merasakan dirinya lebih unggul. Akibatnya maka  sebagian manusia merasa menjadi superior dari yang lainnya. Manusia mempunyai keinginan untuk berkuasa, ini mengorbankan perasaan cinta akan kedamaian dan keamanan. Setelah itu timbul kelicikan, balas dendam, permusuhan, perbudakan dan sebagainya. Kehendak untuk berkuasa dari manusia yang merasa lebih unggul (filsafat Nietzsche) akan mampu melangsungkan hidupnya dan berjaya, sedangkan yang lainnya terpuruk dan musnah (teori evolusi).
Secara umum manusia mengalami tahap perkembangan akal. Pertama manusia mengalami tahap teologis mulai dari fetiyisme dan animisme, politeisme, sampai monoteisme. Tahap berikutnya tahap metafisis, yang merupakan modifikasi dari tahap teologis. Pada tahap ini bentuk-bentuk supranatuaral digantikan dengan kekuatan-kekuatan abstrak yang lebih nyata yang dipersonifikasikan seperti kodrat, kehendak Tuhan, roh, absolut, tuntutan hati nurani, keharusan mutlak, kewajiban moral dan sebagainya. Yang terakhir tahap positif (Aguste Comte), dimana hal-hal yang abstrak tidak lagi dijelaskan secara apriori, melainkan berdasar pada observasi, eksperimen dan komparasi yang ketat dan teliti. Tugas akal mencoba mengobservasi gejala dan kejadian secara empiris dan hati-hati untuk menemukan hukum-hukum yang mengatur gejala dan kejadian itu. Comte mengembangkan ilmu pengetahuan positif dimana ia harus objektif, berulangkali, menyoroti setiap fenomena alam yang berhubungan dengan fenomena lain. Karena itu landasan yang ilmu pengetahuan bersifat naturalistik dan deterministik atau tunduk pada hukum alam.
Keberadaan manusia didunia menimbulkan persoalan-persoalan seperti kesenangan, kebebasan, kecemasan, penderitaan, kebahagiaan, kesepian, harapan, dan sebagainya. Persoalan-persoalan itu melibatkan semua manusia,  semuanya menjadi berbenturan satu dengan yang lainnya.  Oleh karena itu semua itu harus dilandaskan pada rasa tanggung jawab, sebagai pembatas dari kebebasan yang didengungkan oleh penganut idelaisme. Oleh karena itu tanggung jawab menjadi hal yang fundamental. Kebijaksanaan lah akhirnya yang melandasi tanggung jawab, untuk menentukan sikap dan perbuatan kita.
Menurut Kierkeaard keberadaan manusia melalui tahap-tahap estetis, etis, dan religius. Tahap pertama manusia berorientasi untuk mendapatkan kesenangan dirinya sendiri. Sedangkan tahap yang kedua mulai menjalani dan menghayati nilai-nilai kemanusiaan yang dirasakan universal bagi semua kalangan. Pada tahap terakhir keotentikan manusia sebagai subjek mulai meikirkan nilai-nilai religius yang diterima oleh akal sehat  tetapi tidak mempertimbangkan rasionalitas dan pertimbangan ilmiah.
Perkembangan hasil olah fikir manusia, menuntun pada sebuah kesadaran. Kesadaran (menurut Husserl) adalah kesadaran yang tidak kosong, ia selalu berkaitan dengan kutub objeknya yang disadari dalam keadaan berkorelasi dan berdialektis. Dengan demikian kesadaran mengarah pada objektifikasi, identifikasi, kaitan dengan objek lain, dan akhirnya bermuara pada menciptakan kesadaran itu sendiri, sebagai aktivitasnya. Kesadaran yang muncul akan berupa kesadaran reflektif dan kesadaran nonreflektif (Sartre), setelah itu tumbuhlah penghyatan akan kehidupan.     
Keberadaan manusia tidak terlepas dari dunianya. Manusia terlibat , terikat, komitmen, dan akrab didalam dunianya tersebut. Dunia yang dimaksud bukan hanya lingkungan fisik material semata, melainkan dunia manusia itu sendiri, dunia pengalaman hidup keseharian. Objek-objek disekitar manusia menjadi objek yang  berarti setelah kita fikirkan (Heidegger). Semua objek yang ada mempunyai kaitan satu dengan yang lain membentuk suatu sistem termasuk manusia itu sendiri. Dengan demikian keberadaan manusia selalu bertumpu pada orang lain dan lingkungan fisik  material yang lain.
Keberadan manusia sebagai makhluk yang bebas, ternyata selalu dihadapkan dengan daya tarik benda disekitarnya. Benda mempunyai daya tarik dan daya pikat yang luar biasa besar, yang mampu menjerat dan menghancurkan kebebasan (Sartre). Benda-benda menjadi lawan tunggal dari kebebasan. Benda-benda kadang memperbudak  sehingga kebebasannya terenggut, bahkan  benda-benda itulah yang menjadi manusia berserah diri. Akibat dari itu semua timbulah konflik antara kebebasan dan keterikatan.
D, Manusia dan Kemanusiaan
Pengetahuan manusia terhadap dunianya berkembang dalam relasi aktif manusia dengan lingkungannya. Dari relasi aktif inilah dibentuk bangunan pengalaman dan penentuan ide-ide. Ilmu kemanusiaan di dasarkan pada pengalaman ini sementara ilmu alam tidak. Sehingga, hasil yang diperoleh dari ilmu alam dalam bentuk teori dan hipotesis bersifat esoteric. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu kemanusiaan dibandingkan ilmu alam berdiri lebih dekat terhadap hidup dan pengalaman manusia. Kejadian yang dialami seseorang kemudian dipelajari dalam ilmu kemanusiaan dan sejarah. Tujuan ilmu kemanusiaan sendiri adalah memahami kehidupan. Ilmu kemanusiaan kemudian meninggalkan sisi kejadian-kejadian fisik dan kausalitas mekanis yang bertujuan untuk menjelaskan saja. Ilmu alam menjelaskan fenomena sebagai contoh dari bentuk-bentuk yang sudah tersusun, hirarki dari klasifikasi, dan hukum yang ada di alam. Sementara ilmu sosial melihat fenomena lebih jauh dengan mencoba memahami pengertian dari kehidupan, termasuk berbagai tindakan dan pengalaman yang berarti bagi manusia yang datang dari dalam.
Memahami manusia tidak dapat dicapai hanya dengan observasi diri melainkan juga dari sumber objektif yang ditemukan dalam ekspresi-ekspresi kehidupan. Ekspresi kehidupan adalah pernyataan dari relasi-relasi logis. Relasi logis akan membawa kita kepada isi pemikiran yang murni. Manusia hidup di muka bumi memiliki berbagai pengalaman kehidupan, yang tergambar dalam ekspesi kehidupannya. Ekspresi kehidupan juga terdiri dari tindakan-tindakan manusia dan kehidupannya dari pengalaman yang dihidupi dimana inner self mengekspresikan diri di hadapan diri sendiri dan kemudian mengkomunikasikannya kepada yang lain. Ekspresi kehidupan sendiri mengandung karakter historis dan dinamis. Lewat ekspresi-ekspresi kehidupan kita diperkenalkan ke dalam dunia historis. Karakteristik dunia dari ekspresi-ekspresi kehidupan merujuk pada rentangan berbagai fakta empiris yang dapat dimengerti manusia karena pikiran manusialah yang bertanggung jawab terhadap produksi atau adanya fakta empiris tersebut.
Kehidupan manusia adalah proses historis yang dipenuhi dengan objektifikasi kehidupan dan interaksi sistem yang dinamis. Kehidupan manusia mendapatkan penekanan pada tema sejarah yang digelutinya. Ilmu kemanusiaan bertujuan untuk memahami apa yang terkandung di dalam fenomena termasuk segala tindakannya. Memahami sendiri tidak dapat dicapai hanya dengan observasi diri tetapi juga dari sumber objektif. Ekspresi kehidupan yang terdapat dalam kehidupan manusia disebut dunia sosial historis manusia.
Di dalam dunia historis manusia, masa kini memiliki dimensi waktu lainnya yang membedakannya dengan waktu yang dipelajari oleh ilmu alam. Dimensi waktu lainnya meliputi masa lampau dan masa depan. Masa kini dipenuhi oleh berbagai peristiwa dan pengertian dari masa lampau sekaligus mengandung masa depan yang terealisasikan lewat kemunculan berbagai posibilitas. Dengan demikian, dunia kehidupan manusia yang dikatakan sebagai dunia historis mempunyai rentangan tiga dimensi waktu yang disatukan ke dalam satu rentangan waktu. Kehidupan manusia adalah satu rentangan waktu yang panjang, yang terdiri dari masa kini, masa lampau, dan masa depan. Pergerakkan dari satu waktu ke waktu yang lainnya bukanlah akibat dari tujuan rasional tertentu seperti yang dimaksudkan Hegel melainkan karena adanya ketidakpuasan atas kebutuhan yang ada.
TERJEBAK DIPUSARAN FILSAFAT
A.    Para Pemikir Disektar Kita
Manusia makhluk sosial yang hidup dimuka bumi. Sebagai makhluk sosial manusia berinteraksi satu sama lain saling mengisi dan mewarnai dunia. Dunia yang kita huni ini, tumbuh dan berkembang seiring dengan peradaban yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Peradaban yang tercipta  untuk memenuhi kebutuhan akan terjawabnya seluruh pertanyaan yang ada dibenak kepalanya. Peradaban yang melahirkan teknologi untuk mempermudah hidup dirinya dan hidup orang lain.
  Sebagai mana manusia pada umumnya, kita berada dalam suatu peradaban yang diciptakan oleh manusia lain sebelum kita. Para pemikir dengan segala corak pemikirannya, memenuhi seluruh peradaban yang ada sekarang ini. Teknologi yang tercipta adalah buah dari hasil pemikiran mereka. Kita merupakan bagian dari sebuah peradaban dan tidak mungkin lepas dari dalamnya. Kita ditakdirkan untuk menyaksikan dan memperoleh manfaat dari hasil olah fikir para ilmuwan. Hasil pemikiran mereka dijadikan acuan untuk memberikan arah peradaban yang ada sekarang ini.
Dari masa ke masa para pemikir datang silih berganti. Dari tahun-ketahun perkembangan pola pikir semakin meningkat, kita tidak tahu akan ada apa lagi pemikiran berikutnya. Kaum intelektual di haruskan bagaimana menciptakan suatu ide  yang cemerlang guna dapat membandingkan suatu pemikiran dan keyakinan kepada manusia itu sendiri. Semua pemikiran mereka memberikan pengaruh kepada peradaban manusia baik pada zaman pada waktu para pemikir itu masih hidup, maupun pada zaman setelahnya. Jalan fikiran mereka dengan pasti mempengaruhi jalan fikiran manusia awam disekitarnya maupun manusia sesudahnya. Corak pemikiran mereka itulah yang mewarnai peradaban yang ada pada masa sekarang ini. Semua alur pemikiran mereka mengarahkan kita kepada apa yang menurut pemikiran mereka benar. Kita dengan alur pemikiran kita sendiri tinggal memahami alur pemikiran mereka, baik dengan membenarkan atau menyanggah alur pemikiran mereka. Bagaimana para pemikir melahirkan suatu pola pikir bisa kta saksikan dan difahami dari buah karyanya. Mereka memberikan pengetahuan yang sangat besar bagi orang disekitarnya dan bagi generasi-generasi memulai perilaku dalam masyarakat, apakah itu dari faham maupun alasan logis dari pemahaman mereka, yang sangat berguna.
Tidak semua hasil olah pemikiran para ilmuwan akan sejalan bagi semua orang. Adakalanya ide-ide yang mereka kemukakan itu sesuai dengan nalar kita, ada juga ide-ide mereka yang tidak sesuai dengan nala kita. Kita tinggal memilih mana yang sesuai dan sejalan dengan fikiran kita. Untuk hal tersebut kita harus banyak belajar untuk memahami semua olah pemikiran mereka. Jadi kita tinggal memilih  kreteria mana yang akan diambil. Keputusan yakni diambil tergantung bagaimana kita berfikir dan melihat pada diri kita sendiri.  Adanya komunikasi saling berbagi pengetahuan, dan kajian reverensi yang didapatkan alan memberikan keluasan bagi kita untuk memikirkan semua itu. Meluasnya ilmu pengetahuan berdampak besar pada kehidupan manusia. Pada umumnya ilmu pengetahuan ini membantu manusia dalam mengorientasikan diri dalam dunia. Untuk menghasilkan pengetahuan yang setepat mungkin, semua ilmu membatasi diri pada tujuan atau bidang tertentu.
Ilmu filsafat sebagai dasar dari semua ilmu pengetahuan jelas berperan terhadap perkembangan semua disiplin ilmu pengethuan. Ilmu-ilmu ini  berkembang sesuai dengan objek kajianya masing-masing. Filsafat, dengan pola fikir yang menjadi tolak ukurnya, menjadi pola fikir juga untuk ilmu pengetahuan. Pengaruh filsafat pada perkembangan ilmu pengethuan tampak dalam pengaruh bagaimana ilmu pengetahuan itu mengalir sesuai  aliran filsafat yang dianutnya. Jadi ilmu filsafat memberikan pola yang terhadap ilmu pengetahuan guna membangun dan mengembangkan ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan diperoleh dengan cara penuh kesadaran, melakukan sesuatu tehadap objek, didasarkan pada suatu sistem, prosesnya menggunakan cara yang lazim, mengikuti metode serta melakukannya dengan cara berurutan yang kemudian diakhiri dengan verifikasi atau pemeriksaan tentang kebenaran ilimiahnya. Dengan demikian pendekatan filsafat ilmu mempunyai implikasi pada sistematika pengetahuan sehingga memerlukan prosedur, harus memenuhi aspek metodologi, bersifat teknis dan normatif akademik. Pada kenyataannya filsafat ilmu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, perkembangannya seiring dengan pemikiran tertinggi yang dicapai manusia. Oleh karena itu filsafat sains modern yang ada sekarang merupakan output perkembangan filsafat ilmu terkini yang telah dihasilkan oleh pemikiran manusia. Filsafat ilmu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh pemikiran yang dipakai dalam membangun ilmu pengetahuan.
B.     Berada di Pusaran Filsafat
Fitrah manusia sejati adalah menjadi pelaku atau subyek. Manusia sejati adalah menjadi pelaku yang sadar, yang bertindak mengatasi dunia serta realitas. Manusia harus menggeluti dunia dan realitas dengan penuh sikap kritis dan daya-cipta, dan hal itu berarti atau mengandaikan perlunya sikap orientatif yang merupakan pengembangan bahasa pikiran yakni bahwa pada hakekatnya manusia mampu memahami keberadaan dirinya dan lingkungan dunianya yang dengan bekal pikiran dan tindakannya ia merubah dunia dan realitas. Karena itulah manusia berbeda dengan binatang yang hanya digerakan oleh naluri. Manusia juga memiliki naruni, tapi juga memiliki kesadaran. Manusia memiliki kepribadian, eksistensi. Ini tidak berarti manusia tidak memiliki keterbatasan, tetapi dengan fitrah kemanusiaannya seseorang harus mampu mengatasi situasi-situasi batas yang mengekangnya. Jika seseorang menyerah pasrah pada situasi batas itu, apalagi tanpa ikhtiar dan kesadaran sama sekali, maka sesungguhnya ia tidak manusiawi lagi. Seseorang yang manusiawi harus menjadi pencipta sejarah sendiri. Dan, karena seseorang hidup di dunia dengan orang-orang lain sebagai umat manusia, maka kenyataan mereka harus menjalani dalam proses kehidupannya yang belum selesai. Ini bukan sekedar adaptasi, tapi integrasi untuk menjadi manusia seutuhnya.
Karena manusia tinggal bersama didunia ini maka selalu ada interaksi antara manusia satu dengan manusia lainnya. Oleh karena itu manusia selalu berada dalam lingkungan dan situasi fikiran orang lain yang sama-sama meyakini kebenaran akan sesuatu atau menolak sesuatu yang dipikirkan orang lain. Sebagai makhluk merdeka bisa juga memikirkan sendiri pendapatnya dengan alasan atau argumen yang menurutnya benar secara akal dan daya fikirnya. Banyaknya pemikiran yang timbul didunia ini menyebabkan setiap manusia tidak bisa lepas dari kungkungan semua olah fikirnya dan olah fikiran orang lain. Dan seluruhnya saling pengaruh mempengaruhi satu sama lain membentuk peradaban manusia saat ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tetapi meskipun hal ini telah berlangsung dari masa ke masa, manusia pada masa kini tetap berfikir keras dan mempertanyakan masalah-masalah yang tetap ada dan tetap mereka hadapi. Karena itu pemikiran akan hakikat kebenaran tetap dipertanyakan.
C.     Manusia Masa Kini
Kita mengenal filsafat sekarang melalui karya-karya besar filsuf dari zaman ke zaman. Masing-masing zaman menunjukan keadaan masyarakat pada saat itu dan filsafat yang berkembang pada saat itu pula. Filsafat yang dipelajari sedikit banyak mempengaruhi diri kita pada sikap dan pandangan kita menghadapi suasana masa kini. Pengetahuan pun berkembang sangat pesat, memungkinkan kita mengenal lebih banyak dan lebih mudah mendapatkan hal-hal yang baru yang membawa ke arah perubahan yang baru. Pengetahuan yang beragam membawa manusia pada pembaharuan teknologi yang dipakai untuk kebutuhan manusia pada saat ini.
Kebutuhan manusia pada saat ini akan berbagai pemenuhan untuk dirinya dan hasratnya, membawa ke perbagai usaha untuk mengadakan alat pemenuhannya. Dari waktu ke waktu terus bertambah dan berubah. Maka kebanyakan masyarakat umum sudah tidak memikirkan lagi hakikat keberadaan dirinya. Manusia lebih cenderung pada bagaimana memuaskan hasrat hidup dan kehidupannya. Fikirannya terfokus pada bagai mana ia hidup untuk kehidupanya.
Untuk para pemikir dunia yang sudah bentuk seperti ini, baik secara material dan kenyataannya tetap dipertanyakan dan membutuhkan jawaban-jawaban akan hakikat yang terjadi dan mengapa terjadi. Maka dari waktu ke waktu, dari masa ke masa tetap menjadi pembicaran dan pemikiran, serta pengembaraan yang tetap menarik, yang perlu dicari dan dilakukan penyelidikannya agar didapatkan pengetahuan untuk masalah masa kini dan solusinya dimasa kini dan solusi dimasa datang. Jadi seorang yang merasa berfikiran sebagai filsuf  atau seorang pemikir tetap ada lahan untuk mengembangkan kerangka berfikir untuk menjawab tantangan yang ada dihadapannya. Tinggal langkah dan pijakan mana yang ia pakai sebagai landasan keilmuanya atau membangun ilmunya. Sehingga pencarian akan hakikat tetap dapat dicari, sampai batas akal fikirannya bisa mencapai pada batas yang tertinggi yang dapat memuaskan pada hasrat pencariannya.
D.    Pendidikan Pusat Transformasi Pengetahuan
Peningkatan atau penurunan dari suatu negara dapat disebabkan oleh kegagalan pendidikan yang telah dilakukan di negara tersebut. Mengingat betapa pentingnya peran pendidikan bagi suatu negara, sehingga diperlukan suatu sistem pendidikan yang lebih baik, pendidikan yang membangun individu untuk dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang mereka butuhkan.
Melalui pendidikan ide-ide atau gagasan-gagasan ditularkan kepada generasi berikutnya. Bahkan ide-ide baru atau gagasan-gagasan baru justru mulai bermunculan, hal ini tidak hanya menjawab satu atau dua pertanyaan yang mulai muncul di benak para pemikir. Akan tetapi juga membentuk  interaksi sosial yang baik yang sadar dengan kebutuhannya dan sadar untuk mempertahankan tatanan tersebut.
Peranan setiap individu dalam berinteraksi dengan individu yang lain sangat diperlukan. Interaksi itu kemudian menimbulkan dialektika yang berbuah gagasan, kemudian gagasan itu berinteraksi dengan gagasan yang lain dan menimbulkan gagasan yang baru yang kemudian berinteraksi lagi dan begitu seterusnya. Maka saat proses itu berlangsung, transformasi satu individu dengan individu yang lain berlangsung pula, terbentuklah tranformasi sosial yang merupakan buah karya dari interaksi sosial tadi. Saat proses ini berlangsung, kedua belah pihak yang terkait harus saling aktif dalam berinteraksi. Apabila salah satu dari keduanya tidak aktif (pasif), maka tidak akan terjadi proses dialektika, hanya terjadi proses penuturan gagasan yang mustahil memunculkan gagasan-gagasan atau ide-ide baru guna mengembangkan pemikiran-pemikiran baru.
Melalui pendidikan diharapkan ilmu pengetahuan tetap ada bahkan berkembang. Dengan keberadaannya maka peradaban manusia tetap berlangsung selama manusia ada dimuka bumiini. Dengan pendidikan ini juga generasi muda tidak akan pernah terputus dengan sejarahnya. Dan dengan melihat sejarah masa lalunya manusia dapat merefleksikan dirinya, menyongsong masa depannya. Masa depan yang belum pasti menjadi manusia mempunyai ancang-ancang untuk menghadapinya.
E.     Pendidikan di Sekolah
Sekolah bukan satu-satunya tempat untuk mendapatkan pendidikan, tetapi tidak dapat dipungkiri sekolah merupakan salah satu sarana untuk mendapatkan pengetahuan. Di sekolah diberikan subyek-subyek pelajaran pokok yang mesti didapatkan seorang anak yang bersekolah. Subyek-subyek itu dipilih berdasarkan kebutuhan dan pentingnya subyek itu diberikan. Semua itu diatur dalam bentuk kurikulum sekolah.
Salah satu subyek pelajaran disekolah adalah pendidikan matematika.  Pendidikan matematika di sekolah penting  untuk pembentukan sifat yaitu pola berpikir kritis dan kreatif,  sehingga siswa memiliki pandangan yang cukup luas dan memiliki sikap logis, kritis, cermat dan disiplin . Matematika juga dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan persoalan-persoalan lain diluar matematika itu sendiri. Dengan mempelajari matematika siswa diharapkan dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari, dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.
F.      Matematika di Sekolah
Matematika penting diajarkan disekolah dengan berbagai alasan. Kita dapat melihat matematika sebagai bahasa yang universal, bahasa yang dapat dimengerti oleh setiap orang. Matematika juga merupakan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif. Matematika juga sebagai sarana berfikir deduktif yang mengambil kesimpulan berdasarkan premis-premis yang kebenarannya telah diketahui. Disamping sebagai bahasa matematika juga berfungsi sebagai alat berfikir, yang mendasarkan pada analisis dalam menarik kesimpulannya.
Lebih jauh menurut Ebbutt dab Staker matematika itu adalah serangkaian kegiatan yang memungkinkan siswa untuk :
1.      Mencari pola dan hubungan yakni mencari koneksi dalam jaringan. Karena matematika dapat dianggap sebagai jaringan ide-ide yang saling terkait. Jadi dengan belajar matematika siswa diberi kesempatan untuk menemukan dan menyelidiki pola dan memberi mereka melakukan eksplorasi dengan mendorong mencoba hal-hal sebagai cara yang berbeda sebanyak mungkin. Sehingga siswa dapat menggambarkan dan merekam hubungan, serta mencari konsistensi atau inkonsistensi, persamaan atau perbedaan, untuk cara memesan atau mengatur, untuk cara menggabungkan atau memisahkan antara ide-ide matematika dan mengeneralisasikn penemuan merka.
2.      Melakukan kegiatan kreatif, yang melibatkan imajinasi, intuisi dan penemuan. Berbagai kegiatan anak baik secara individu maupun kelompok dapat dipenuhi di dalam kelas. Sikap inisiatif, orisinalitas dan berpikir divergen, rasa ingin tahu merangsang, mendorong pertanyaan, dugaan dan prediksi, menghargai dan memungkinkan waktu.
3.      Memecahkan masalah baik dalam matematika maupun dalam  situasi nyata. Juga mengembangkan keterampilan dan proses pemecahan masalah, sehingga siswa dapat mengidentifikasi informasi apa yang mereka butuhkan untuk memecahkan masalah dan bagaimana mendapatkannya. Akhirnya kegiatan ini mendorong siswa menemukan alasan yang logis, konsisten, serta  bekerja secara sistematis dan mengembangkan sistem pencatatan.
4.      Sebagai sarana untuk mengkomunikasikan informasi atau ide atau gagasan dengan membaca dan menulis tentang matematika, dan menghargai dan mendukung beragam budaya.

KESIMPULAN
Manusia dengan kemampuan nalarnya, mampu berfikir untuk dirinya dan untuk lingkungannya. Dengan kemampuan nalar dan fikirannya manusia sedikit banyak dapat mengungkap hakekat keberadaannya dan hakekat keberadaan lingkunagannya. Segala pertanyaan mengenai diri dan lingkungannya dicoba di ungkap dengan berfikir kritis dan logis. Keinginannya untuk mengetahi sesuatu menjadikan manusia berusaha mencari kebenaran tentang segala sesuatu yang memenui benak fikirannya.
Karena pencarian yang terus menerus itu akhirnya manusia menemukan berbagai ilmu pengetahuan, yang sebelumnya tidak ia ketahui. Ilmu pengetahuan terus berkembang pesat, seiring kajian tentang kebenaran yang terus dipelajari dan digali. Dari sekian macam ilmu pengetahuan itu lahirlah teknologi yang dapat mempermudah pekerjaan manusia. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi inipun tetap saja kajian akan kebenaran tetap dicari.
Ilmu pengetahuan dan teknologi diperkenalkan dan teruskan ke genarasi berikutnya dengan melalui pendidikan. Pendidikan ini dibentuk dan dilembagakan dalam bentuk sekolah. Tujuannya untuk transper ilmu pengetahuan dan teknologi agar diketahui dan dimanfaatkan, serta dikembangkan lebih bik lagi, guna terpeliharanya peradaban manusia, samapai masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir, Prof. Dr. Filsafat Umum, Bandung, Remaja Rosda Karya, 2012
Harman, Gilbert. “Reasoning, Meaning, and Mind”. Oxford University Press. USA: 1999.
Juhaya, S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat, Jakarta, Prenada Media, 2008
Suriasumantri, Junjun S. 2003. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, 
Jakarta :Pustaka Sinar Harapan
Lih.Sullivan,John Edward “Prophets of the West- an Introduction to the Philosophy of History”, Holt Rinehart Winston: New York 1970.
Lloyd Gerson, History of Phylosophy in Late Antiquity, Cambridge,
Cambridge University Press 2010
Sastrapratedja.M, SJ “Filsafat Sejarah- Catatan untuk Kuliah” Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara: Jakarta. 2003
Sudarminta, J. “Epistemologi Dasar- Pengantar Filsafat Pengetahuan” Kanisius: Yogjakarta: 2002
Louis O. Kattsoff (alih bahasa Soejono Soemargono), Pengantar Filsafat, Yogyakarta, Tiara Wacana, 2004
Zainal Abidin, Filsafat Manusia, Bandung, Remaja Rosda Karya, 2011
http//www.wikipedia.com 2008http//www.google.co.id 20

Tidak ada komentar:

Posting Komentar