Refleksi V 17
September 2012
Filsafat Matematika
Aliran-aliran dalam
filsafat banyak mempengaruhi pada fisafat matematika, Baik matematikawan yang
filsuf, maupun filsuf yang ahli matematika, kedua-duanya memikirkan sesuatu
yang menjadi objek dan kajiannya, untuk memenuhi pertanyaan-pertanyaan yang
setiap kali muncul.
Matematika merupakan
sumber dan inspirasi bagi para filsuf, metodenya juga banyak diadopsi untuk
mendeskripsikan pemikiran filsafat. Kita bahkan mengenal beberapa matematikawan
yang sekaligus sebagai sorang filsuf, misalnya Descartes, Hilbert, G¨odel, Dalam matematika logika yang
merupakan kajian sekaligus pondasi yang dijadikan bahan kajian penting oleh
para filsuf.. Logika matematika telah memberi inspirasi kepada pemikiran filsuf.
Salah satu titik krusial yang menjadi masalah bersama oleh matematika maupun
filsafat misalnya persoalan pondasi matematika. Baik matematikawan maupun para
filsuf bersama-sama berkepentingan untuk menelaah apakah ada pondasi
matematika? Jika ada apakah pondasi itu bersifat tunggal atau jamak? Jika
bersifat tunggal maka apakah pondasi itu? Jika bersifat jamak maka bagaimana
kita tahu bahwa satu atau beberapa diantaranya lebih utama atau tidak lebih
utama sebagai pondasi? Namun kajian filsafat telah mendapatkan bahwa di sini
terdapat paradoks atau inkonsistensi yang kemudian membangkitkan kembali
motivasi matematikawan di dalam menemukan hakekat dari sistem matematika.
Dengan teori
ketidak-lengkapan, akhirnya Godel menyimpulkan bahwa suatu sistem matematika
jika dia lengkap maka pastilah tidak akan konsisten; tetapi jika dia konsisten
maka dia patilah tidak akan lengkap. Hakekat dari kebenaran secara bersama
dipelajari secara intensif baik oleh filsafat maupun matematika. Kajian nilai
kebenaran secara intensif dipelajari oleh bidang epistemologi dan filsafat
bahasa. Di dalam matematika, melalui logika formal, nilai kebenaran juga
dipelajari secara intensif.Salah satu kajian filsafat, yaitu epistemologi,
dikembangkan pula epistemologi formal yang menggunakan pendekatan formal
sebagai kegiatan riset filsafat yang menggunakan inferensi sebagai sebagai
metode utama. Inferensi demikian tidak lain tidak bukan merupakan logika formal
yang dapat dikaitkan dengan teori permainan, pengambilan keputusan, dasar
komputer dan teori kemungkinan.
Banyak filsuf telah
menggunakan matematika untuk membangun teori pengetahuan dan penalaran yang
dihasilkan dengan memanfaatkan bukti-bukti matematika dianggap telah dapat
menghasilkan suatu pencapaian yang memuaskan. Matematika telah menjadi sumber
inspirasi yang utama bagi para filsuf untuk mengembangkan epistemologi dan
metafisik. Dari pemikiran para filsuf yang bersumber pada matematika
diantaranya muncul pemikiran atau pertanyaan: Apakah bilangan atau obyek
matematika memang betul-betul ada? Jika mereka ada apakah di dalam atau di luar
pikiran kita? Jika mereka ada di luar pikiran kita bagaimana kita bisa
memahaminya? Jika mereka ada di dalam pikiran kita bagaimana kita bisa
membedakan mereka dengan konsep-konsep kita yang lainnya? Bagaimana hubungan
antara obyek matematika dengan logika? Pertanyaan tentang “ada” nya obyek
matematika merupakan pertanyaan metafisik yang kedudukannya hampir sama dengan
pertanyaan tentang keberadaan obyek-obyek lainnya seperti universalitas,
sifat-sifat benda, dan nilai-nilai; menurut beberapa filsuf jika obyek-obyek
itu ada maka apakah dia terkait dengan ruang dan waktu? Apakah dia bersifat
aktual atau potensi? Apakah dia bersifat abstrak? Atau konkrit? Jika kita
menerima bahwa obyek matematika bersifat abstrak maka metode atau epistemologi
yang bagaimana yang mampu menjelaskan obyek tersebut? Mungkin kita dapat
menggunakan bukti untuk menjelaskan obyek-obyek tersebut, tetapi bukti selalu
bertumpu kepada aksioma.
Pada taraf tertentu
matematika dan filsafat mempunyai persoalan-persoalan bersama. Matematika dan
filsafat mempunyai derajat yang sama ketika melakukan penelaahan yatitu kesamaan
antara obyek, sifat-sifat obyek, logika, sistem-sistem, makna kalimat, hukum
sebab-akibat, paradoks, teori permainan dan teori kemungkinan. Para filsuf
menggunakan logika sebab-akibat untuk untuk mengetahui implikasi dari konsep
atau pemikirannya, bahkan untuk membuktikan kebenaran ungkapan-ungkapannya.
Pertanyaan :
Apakah seorang matematikawan
sejati dapat menjadi seorang filsuf?Dalam tahap apa ia akan menjadi seorang
filsuf?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar